Bebas berimajinasi
Total Pageviews
Monday, January 09, 2012
Boneka Untuk Ningsih novel anak 2008
Wah senangnya melihat novel anak karyaku ada di perpustakaan Jawa Timur http://bapersip.jatimprov.go.id/bapersip/koleksi_perpustakaan_detail.jsp?controlnum=JATIM-08100000000253.
Sunday, January 01, 2012
Saturday, November 19, 2011
Follow @Rajagombaaal
Raja gombal dan ceweknya
Suatu hari si Raja gombal pergi ngajak ceweknya naik motor. Di tengah jalan mereka terjebak macet.
"Bang, kayaknya kita kejebak macet, nih." kata si cewek
"Tenang aja dik, kan ada abang di sini kamu yang akan selalu menghiburmu," kata si Raja gombal.
"Ih abang sih, katanya mau beliin aku mobil." sungut si cewek.
"Beb, kalo kita naik mobil, belum tentu bisa berduaan mesra seperti ini, lagian sekarang kan lagi banyak kejahatan kapak merah. Abang kan nggak mau kamu kenapa-napa." ujar si Raja gombal.
"Tapi lihat bang, banyak asep dan polusi." kata si cewek tetap nyerocos.
"Akh, anggap aja itu adalah polusi-polusi yang berusaha menghalangi cinta kita."
"Tapi kan panas, bang."
"Anggap aja panas itu untuk menghangatkan cinta kita." kata si Raja gombal.
"Ih, dasar abang tukang ngegombal."
Yukkkk follow @Rajagombal biar bisa senyum-senyum...
Hafalan Sholat Delisa
Aku adalah orang yang jarang nangis ketika baca buku dan ketika membaca buku Hafalan Sholat Delisa, tanpa sadar kok ya aku bisa meneteskan air mata. Buku yang berlatar belakang Sunami Aceh tahun 2004 ini bercerita tentang gadis kecil bernama Delisa yang dengan keluguan dan kepolosannya belajar menghafal tentang bacaan Sholat. Sampai kemudian bencana datang ketika Delisa sedang menghafal bacaan sholat di sekolah. Sunami telah merenggut nyawa orang-orang dekat Delisa kecuali Abi (Ayah) yang waktu itu sedang berada di tempat lain sehingga selamat dari bencana Sunami.
Banyak hal yang membuat kita (orang dewasa) tersentil dengan pertanyaan-pertanyaan dan kepolosan Delisa dalam buku buku ini.Tanpa perlu menuliskannnya dengan gaya hiperbolik, pengarang telah mampu membuat pembacanya tersentuh dan mengharu biru sebuah kecerdasan dalam sosok polos Delisa.
Dan sekarang...Film Hafalan Sholat Delisa segera beredar di bioskop semoga saja filmnya tidak akan membuat para pembaca novelnya kecewa.
Friday, September 30, 2011
Membuat Kalimat Pembuka pada Cerpen
Bagaimanakah cara membuat kalimat pembuka pada cerpen? Apakah setiap kalimat pembuka pada cerpen harus menggunakan narasi? Atau boleh langsung menggunakan dialog tokohnya?
Pertanyaan-pertanyaan seperti ini dulu pernah saya alami ketika pertamakali belajar menulis cerpen. Namun seiring dengan jalannya waktu, pertanyaan-pertanyaan seperti itu pun pada akhirnya dapat terjawab. Tentunya dengan banyak belajar dan membaca karya orang lain.
Setiap cerpen memiliki kalimat pembuka yang berbeda-beda. Tergantung dari bagaimana si pengarang menuliskannya. Ada yang memulainya dengan narasi, ada juga yang mengawalinya dengan Dialog tokoh. Lantas dari kedua cara itu manakah yang paling baik? Tentu saja disini tidak ada yang paling baik dan paling benar. Keduanya sama-sama bisa digunakan.
Dalam membuat kalimat pembuka pada cerpen, kita dituntut untuk membuat sesuatu yang menarik bagi pembaca. Karena bagaimana cerpen kita mau dibaca jika pada kalimat pembukannya saja sudah kacau dan tidak menarik. Nah untuk dapat membuat bagaimana kalimat pembuka yang menarik, berikut ini ada beberapa cara:
1. Setting
Setting atau lokasi. Setting ini bisa berupa fiksi ataupun real/sebuah lokasi yang memang benar-benar nyata.
Contoh kalimat pembuka dengan Setting real:
Ketika kita melewati jalan Sudirman, ada sebuah bunderan besar yang ditengah-tengahnya terdapat air mancur yang biasa disebut Bunderan HI. Karena di dekat bunderan itu ada hotel bernama Hotel Indonesia….dst
Contoh kalimat pembuka dengan Setting fiksi:
Di hutan yang sepertinya jarang didatangi orang itu berdiri kokoh sebuah Gedung seperti bangunan Belanda dengan warna cat putih yang sudah memudar serta ada beberapa tiang yang nyaris roboh…
2. Benda simbolik
Benda yang diceritakan pada kalimat pembuka sebuah cerpen, bisa berupa benda hidup ataupun benda mati. Sebagian penulis ketika membuat kalimat pembuka dengan sebuah benda, berarti akan ada kesinambungannya antara benda tersebut dengan cerita.
Contoh:
Batu besar yang dicat warna hitam itu masih tergeletak di tanah dekat pohon Jati selama berhari-hari, sehingga warna hitamnya mulai pudar terkena hujan dan panas…dst.
3. Pertanyaan
Pertanyaan di sini bisa berupa Dialog ataupun pertanyaan dalam bentuk narasi.
Contoh Pertanyaan dalam dialog:
“Apakah kau sudah masuk ke ruangan besar itu?” tanya Andi begitu melihat Joko datang menghampirinya beberapa saat kemudian.
Contoh pertanyaan dalam bentuk Narasi:
Apakah aku tak pantas untuk mencintainya? Apakah aku tidak berhak untuk mendapatkan sedikitpun rasa itu, setelah semua yang sudah aku lakukan terhadapnya? Lalu di mana keadilan itu?.......... dst
4. Penggambaran tokoh
Kalimat pembuka dengan penggambaran tokoh ini bisa penggambaran tokoh utama, tokoh pendamping maupun penggambaran orang-orang yang ada di sekitar tokoh.
Contoh:
Rambutnya yang hitam legam dan tebal dikepang dua yang masing-masing kepangannya selalu bergerak-gerak jika ia berjalan. Dan ia terlihat manis dengan sedikit poni yang menutupi keningnya….dst
5. Aksi
Membuat kalimat pembuka dengan aksi ini bisa membuat pembaca penasaran
Contoh:
Gerakan benda itu begitu cepat mengenai wajahnya hingga ia tidak bsia melihat dengan jelas benda apakah yang tiba-tiba menyambarnya itu….dst
6. Adegan
Adegan ini biasanya merupakan gabungan antara aksi, seting dan penggambaran tokoh
Contoh:
Wanita yang dulu pernah menjadi kekasihnya itu langsung memukul dengan membabi buta, bahkan tidak disadarinya panas terik Matahari siang itu….dst
7. Dialog
Kalimat pembuka dengan dialog ini sangat beragam jenisnya. Kita bebas memilih. Tapi dengan syarat ada sesuatu di Dialog pembuka ini.
Contoh:
“Apakah dia selalu menangis setiap sore di taman ini?”
“Tapi itu bukan salahku…,”
“Kau yang sudah mengambilnya…,”
….dst
Nah, setelah sedikit ada gambaran tentang bagaimana cara membuat kalimat pembuka, sekarang giliran kamu untuk membuat cerpen. Tunggu apalagi, yukkk….
Wednesday, September 14, 2011
Kemanakah cerpen kita kirim?
Pernah ada pertanyaan masuk ke imel
saya. Kira-kira pertanyaannya seperti ini:
"Aku punya cerpen tapi bingung
mau dikirim ke mana, ya?"
Nah lo..., saya juga bingung
menjawabnya. Lha cerpen situ yang buat kok tanyanya ke saya? Hehehe bercanda
gan... biar gak tegang bacanya jadi diawali lucu-lucuan dulu ya... eh lucu gak
sih?
Begini... Ketika saya membuat
cerpen, hal pertama yang saya pikirkan adalah akan ke mana cerpen saya ini
dikirim? Ke majalah A, majalah B atau majalah C. Jadi begitu sudah jelas
bahwa saya akan mengirimkan cerpen saya ke majalah A maka sayapun segera
mencari tahu, seperti apakah majalah A itu? Nah setelah tahu, barulah saya
bikin cerpennya.
Coba deh baca pertanyaan diatas,
kebalikannya kan?
Jadi kalau menurut saya, sebelum
kita menulis cerpen, yang kita pikirkan terlebih dahulu adalah media/majalah
apa. Setelah tahu media/majalah yang kita tuju barulah kita mulai membuat
cerpen. Dengan begitu cerpen yang kita kirimkan tidak akan sia-sia. Kenapa saya
bilang sia-sia? Karena jika cerpebn kita dikirimkan ke media/majalah yang
salah, walau sebagus apapun cerpen kita, percuma saja, pasti tidak akan
diterima alias ditolak.
Kenapa bisa begitu?
Ya, bisa saja. Contoh gampangnya
begini. Misalnya Kita membuat cerpen bertemakan cinta remaja SMA. Cerpen itu
bagus banget, tidak ada duanya di dunia (hehehe lebay) tapi kemudian kita
mengirimkannya ke majalah anak-anak seperti Bobo. Nah lho... ya tentu saja
bakalan ditolak sama majalah Bobo. Iya nggak sih?
Begitu kira-kira contoh gampangnya.
Nah, sebelum kita mengirimkan cerpen
ke media/majalah pun kita harus cari tahu dulu media/majalahnya. Misalnya:
1. Segmen pasarnya untuk kalangan
apa. Menengah bawah atau menengah atas. Karena setiap majalah punya segmen
pasar sendiri-sendiri.
2. Majalah anak-anak atau dewasa
2. Gaya bahasanya
3. Tema-temanya yang sering dimuat
seperti apa
Untuk itulah sebelum kita
mengirimkan cerpen ke media/majalah dimaksud, jangan malas untuk membaca dan
mempelajari tulisan-tulisannya. Jangan pelit untuk membeli salah satu
terbitannya dan pelajari kalau perlu nelpon ke majalahnya dan say hello sama
redaksinya, tanya kira-kira tema apa yang diterima oleh majalah tersebut.
Setelah kita tahu seluk beluk
majalah tersebut, barulah kita kirim cerpen kita ke majalahnya.Dan ingat,
setelah itu jangan dipikirin. Lupakan dan buatlah cerpen yang baru lagi. Dan
biasanya, setelah 3 bulan cerpen kita tidak dimuat, berarti cerpen kita tidak
lolos seleksi. Jangan putus asa, cari lagi ide dan buat lagi cerpen yang
baru.
Nah begitulah kira-kira penjelasan
saya tentang pertanyaan ke mana sih, cerpen kita akan dikirim? Jadi pada
intinya, sebelum kita mengirimkan cerpen ke media/majalah, pelajari dulu
media/majalahnya barulah kita kirim. Oke? Okelah kalo begitu...
Tetap semangat dan terus menulis...
Subscribe to:
Posts (Atom)





