Bebas berimajinasi

Bebas berimajinasi

Total Pageviews

Monday, December 15, 2014

Sepatu Emak...





Pagi itu suara kokok ayam jantan mengagetkan seorang penghuni rumah di ujung gang, sehingga membuatnya terjaga. Penghuni rumah berjenis kelamin laki-laki dan berumur 19 tahun kurang satu bulan itu langsung terbangun dan membuka pintu jendela. 
   "Grrrrrrr....!"
   Dia menggeram kesal melihat ayam jago yang masih nangkring di atas pagar rumahnya. Setengah berlari cowok itu keluar kamar dan mengambil sepatu yang ada di depan kamarnya.
   "Rasakan ini!" pekiknya sambil melemparkan sepatu ke arah ayam jago.
   Wuzzzzz....!
   Lemparan pertama meleset. Sabarudin tidak putus asa. Ia kembali berlari mengambil sepatu kedua dan...
   Wuzzzzzz....
   Pletak!
   Awww!
  Ternyata lemparan kedua tepat mengenai sasaran. Seketika si ayam kaget dan terbang lalu menghilang meninggalkan suara memilukan.
   Cowok itu tersenyum puas. "Emang enak." katanya tersenyum penuh kemenangan.
   Dia adalah Sabarudin, anak semata wayang dari seorang janda bernama Mpok Tuti. Sabarudin baru saja lulus SMU. Dan lantaran tidak memiliki biaya untuk melanjutkan kuliah, dia pun lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah. Makan dan tidur seenak udel.
   Jam di dinding kayu kamar Sabarudin menunjukkan angka sepuluh dan Sabarudin kembali naik ke atas tempat tidur dan menarik selimut untuk menutupi seluruh tubuhnya.
   Belum sempat Sabarudin tertidur, kembali terdengar teriakan nyaring,
   "SABARUUUUUUU...!!!"
  

Itu adalah panggilan sayang Emaknya untuk Sabarudin.
   Sabarudin melonjak kaget dan buru-buru melompat dari atas tempat tidurnya, sebelum seember air membasahi tubuhnya seperti biasanya jika Emak marah.
   "Ada apa sih, Mam?" tanya Sabarudin begitu ia menemui Emaknya.
   "Lu masih tidur?" tanya Emak.
   "Enggak Mami, udah bangun dari tadi," aku Sabarudin berbohong.
   "Kok iler lu masih nempel tuh di pipi?" tanya Emak sambil menunjuk bekas iler di pipi kanan Sabarudin.
   Sabarudin tersenyum dan berusaha berkelit, "Aduh Mam, ini tuh bukan iler, tapi tadi ada nyamuk dan Sabaru langsung geplok," katanya dengan lihai mencari jawaban.
   "Oh gitu," kata Emak ngalah. "Terserah elu deh mau kate ape. Elu kan udah gede, udah ngerti boong itu dosa."
   "Iye Mam...,"
   "Ya udah, sekarang bantuin Emak nyari sepatu. Sebentar lagi Emak mau pergi kondangan," kata Emak.
   Sabarudin kaget. "Sepatu Mam?"
   "Iye sepatu Emak. Kenapa lu kaget begitu?" tanya Emak heran.
   "Tapi anu Mam...,"
   "Yaelah Sabaru...., Emak juga punya sepatu sendiri keles, lu nggak usah takut kalo Emak mau minjem sepatu elu." kata Emak dengan bahasa gaulnya yang semakin fasih saja akibat teracuni sinetron setiap malam.
    "I-iya Mam," sahut Sabarudin. "Tapi kayaknya aku lihat ada di luar," katanya dan langsung berlari ke luar rumah.
    "Itu anak kenape sih, suruh nyariin sepatu malah ngabur?" pikir Emak heran.
 


 sumber gambarnya lupa dari mana.. :(

Begitu sampai di luar rumah, dengan cemas Sabarudin mencari sepatu Emak yang belum lama ia pakai sebagai alat penimpuk ayam jago. Akan tetapi sepatu itu tidak ada di sana.
   "Ke mana ya tuh sepatu? Masak iya sih digondol ayam?" Batinnya.
   "Mana, ketemu?" tanya Emak yang sudah nongol di belakang Sabarudin.
   Sabarudin menggeleng pilu.
   "Aduh di mana ya, padahal itu sepatu baru ngambil di tukang kredit kemaren sore." keluh Emak.
   "Iya tenang aja Mami, nanti Sabaru coba bantu cariin," kata Sabarudin menenangkan perasaan galau Emak.
   "Makasih ya Sabaru, lu emang anak Emak yang cihuy...," puji Emak.
   "Baru sekarang oh aku rasakan.... tak punya pacar rasanya kesepian...."
  Sabarudin kaget dan langsung menoleh ke depan pagar. Seorang wanita jadi-jadian sedang bernyanyi dengan suara bas.
   "Lu ngejek gue?" kesal Sabarudin.
   "Ngejek apaan sih bang, wong aku lagi nyanyi," sahut si wanita jadi-jadian itu dengan genit.
   "Lha itu lagu lu nyindir, mentang-mentang gue lagi gak punya cewek!" bentak Sabarudin keki.
   "Ih, gitu aja sensi. Nanti jadi bujang tua lho kalo sering marah-marah...," katanya sambil berlalu dengan jalan megal-megol genit.
   Tiba-tiba Sabarudin melihat ke sepatu yang dipake si wanita jadi-jadian itu. Dia hapal betul dengan sepatu merah menyala itu. Ya! Itu sepatu milik Emaknya.
   "Hei...!!!" teriak Sabarudin sambil mengacungkan tangannya ke arah si wanita jadi-jadian. Dan si wanita jadi-jadian yang mengira akan dihajar oleh Sabarudin segera melepas sepatunya dan lari tunggang-langgang sampai kemudian menghilang di balik tembok tinggi jalanan.
   Sementara tidak jauh dari sana, tampak seorang pemulung sedang menghitung uang hasil penjualan sepatu yang ia temukan di depan pagar rumah Sabarudin itu.
***
   @kalongking





No comments:

Post a Comment

Komentar yaaa