Bebas berimajinasi

Bebas berimajinasi

Total Pageviews

Wednesday, August 05, 2015

Cerita Inspirasi 1

Kasih sayang Ibu yang tak pernah kita sadari...


ilustrasi by: guraru.org
 
Suatu hari lantaran tidak dibelikan Handphone terbaru seperti milik teman-temannya, seorang anak marah kepada Ibunya. Ia menganggap Ibunya tidak lagi sayang dan perhatian terhadapnya. Karena kesal maka anak itupun kemudian ngambek dan pergi dari rumah.
            Si anak berjalan jauh hingga kelelahan. Uang disakunya pun habis untuk membeli makanan dan minuman.  Kini ia tidak lagi memiliki uang. Bahkan untuk membeli segelas minuman air tawar pun ia tidak berdaya.
Di siang yang panas, si anak duduk di bawah pohon dekat tukang cendol sambil membayangkan segarnya es cendol yang masuk kerongkongannya ketika diminum. Si anak hanya bisa menelan ludah dan menahan rasa hausnya.
Si tukang cendol yang saat itu melihat si anak sedang duduk, segera menghampirinya.
“Sedang apa kau di sini, nak?” tanya si tukang cendol.
“Sedang istirahat, Pak.”
“Kamu sedang menunggu seseorang?” tanya si tukang cendol lagi.
Si anak menggeleng. “Aku kabur dari rumah.” Sahutnya.
“Mau minum?” tawar si tukang cendol.
Dengan tegas si anak menggeleng. “Aku kehabisan uang,” katanya jujur.
“Oh, kalau begitu biar Bapak kasih gratis buat kamu,” kata si tukang cendol iba.
Maka si tukang cendol pun kemudian membuatklan segelas es cendol dan diberikannya kepada anak itu. Dengan sekali tenggak, es cendol habis masuk kerongkongan kering anak itu.
“Terima kasih Pak,” kata si anak itu. “Bapak baik sekali mau memberikan es cendol ini gratis kepadaku.”
Si tukang cendol tersenyum. “Akh, hanya segelas es cendol saja.”
“Aku heran,” kata si anak itu lagi. “Bapak yang baru saja aku kenal, begitu baik dan perhatian kepadaku, sementara Ibuku? Ia bahkan tidak perduli dengan kepergianku.”
“Nak,” kata si tukang cendol. “Kamu baru saja dikasih es cendol sudah memuji sampai sebegitunya. Tapi pernahkah kamu berterima kasih pada Ibumu yang sudah banyak memberi kepadamu?”
“Memberi apa?” tanya anak itu.
“Banyak. Banyak sekali.” Jawab si tukang cendol. “Coba kamu pikirkan dan ingat baik-baik. Ibumu mengandungmu selama Sembilan bulan. Setelah kau lahir, ia juga memberikan kasih sayang dan merawatmu dengan penuh rasa cinta.”
Si anak terdiam berpikir.
“Bahkan ketika kau menginjak dewasa, Ibumu pun masih memberikan kasih sayang dan perhatian kepadamu. Apakah kamu tidak pernah berpikir, bahwa Ibumu selama ini telah memberikan banyak sekali kepadamu dan tanpa mengharapkan imbalan apapun darimu?”
Si anak tiba-tiba tersadar. Ternyata benar kata si tukang cendol. Selama ini Ibunya telah memberikan banyak sekali kepadanya, akan tetapi si anak tidak pernah menyadari hal itu. Sungguh teganya jika ia mengatakan bahwa Ibunya adalah orang yang tidak pernah perduli terhadapnya.
 Tanpa disadarinya, buliran kristal bening menetes dari kedua sudut mata si anak itu. Ia benar-benar menyesal telah pergai dari rumah meninggalkan Ibunya.
Maka si anak itu pun kemudian pulang ke rumah. Sesampainya di rumah, tanpa ia duga sang Ibu menyambutnya dengan mata yang sembab akibat menangis.
“Akhirnya kau pulang juga, Nak.” Sambut sang Ibu dengan senang. “Ibu sangat menghawatirkanmu. Masuklah, Ibu sudah siapkan makanan kesukaanmu di meja makan.”
Si anak langsung memeluk Ibunya dengan erat sambil menangis. “Maafkan aku Ibu, betapa aku sangat berdosa telah menyakiti perasaanmu.”
Sungguh, betapa kasih sayang dan perhatian Ibu tidak pernah bisa terbalas oleh apapun. Pengorbanannya begitu tulus dan tanpa mengharapkan imbalan apapun dari anak-anaknya. Lalu sebagai anak, pernahkah kita berpikir untuk membahagiakan Ibu kita? Mari peluk Ibu sebagai tanda rasa sayang dan cinta kita terhadap beliau.
***
 

No comments:

Post a Comment

Komentar yaaa