Bebas berimajinasi

Bebas berimajinasi

Total Pageviews

Wednesday, April 20, 2011

Membuat cerpen







Cerpen adalah cerita pendek. Cerita yang sangat ringkas yang bisa dibaca sekali duduk. Jadi untuk membaca cerpen tidak membutuhkan waktu hingga berjam-jam seperti kita membaca buku ataupun novel.

Bagaimana membuat cerpen? Siapa saja yang bisa menulis cerpen?
Hmmm pertanyaan-pertanyaan seperti ini sering saya dengar di forum-forum kepenulisan yang sering dan banyak diadakan oleh perkumpulan mauun milis penulis.

Jawabannya yang pertama adalah:
Untuk membuat cerpen, ada tiga hal yang harus kita miliki.

1. Ide.

Sebelum kita membuat cerpen, kita harus mempunyai ide dasarnya dulu apa. Misalnya ide tentang tukang kebun. Nah dari ide inilah kemudian kita bisa kembangkan menjadi sebuah cerita.

Contoh ide tentang tukang kebun yang berhati mulia.

Pak Joned adalah seorang tukang kebun di sekolah. Ia bekerja di sekolah SD Harapan Baru dari pagi hingga sekolah bubaran sekitar jam empat sore. Pak Joned orang yang rajin dan periang sehingga banyak murid-murid yang suka padanya. Suatu hari pak Joned menemukan kalung emas ketika ia sedang menyapu halaman sekolah. Karena merasa kalung itu bukan miliknya, pak Joned pun kemudian memberikan kalung itu pada kepala sekolah....dst



2. Tokoh.
Dalam cerpen harus ada tokoh utama penggerak cerita dan tokoh-tokoh pendamping. Tokoh ini boleh perempuan, laki-laki, anak-anak, remaja maupun orang tua. Kita lihat dulu apa yang akan kita ceritakan dan dari sudut pandang siapa.
 
Dalam contoh cerpen di atas, tokoh utamanya adalah pak Joned.
Dalam cerpen ada yang namanya POV atau Point Of View yaitu sudut pandang. Ketika kita membuat cerpen, kita menceritakan sebuah cerita. Nah disinilah kita akan menjadikan cerita ini dari sudut orang pertamakah, orang keduakah atau orang ketiga.


POV orang pertama dengan mengunakan aku, contohnya:


Hari ini aku merasa sangat lelah karena banyak kegiatan di sekolah. Belum lagi guru-guru yang rajin memberikan pekerjaan rumah sehingga aku dan Tias sahabatku batal pergi ke mall hari ini... dst

POV orang kedua: misalnya nama tokohnya adalah Adi.

Adi berjalan dengan sangat tergesa-gesa seperti sedang dikejar oleh binatang buas di belakangnya, sehingga lobang besar di depannya tidak sempat ia lihat.
"Aku harus cepat sampai ke rumah pak Sanusi," katanya dengan napas terengah-engah...dst
 
POV orang ketiga: Ia, dia

Contoh:

Ia merasa bahwa di dalam rumah yang baru saja ia lewati penuh dengan hantu. Rumah bangunan tua itu sangat menyeramkan, dengan tembok yang sudah mengelupas di beberapa sisinya....dst


3. Konflik

Konflik di sini adalah sesuatu yang bertentangan baik itu dalam diri sendiri maupun dengan orang lain.
Konflik yang berasal dari dalam diri sendiri disebut konflik internal dan konflik yang berasal dari luar disebuat konflik eksternal.
Konflik internal misalnya, seseorang yang marah pada diri sendiri lantaran apa yang ia inginkan tidak tercapai. Sementara contoh konflik eksternal adalah konfik pada orang lain misalnya seseorang yang tidak suka dengan sahabatnya karena si sahabat membuka rahasia, maka si orang tersebut memarahi sahabatnya itu.





4. Waktu.
Dalam membuat cerpen kita juga harus menuliskan waktu kejadiannya misalnya pagi harikah, Siang harikah atau malam hari

Nah, gampang kan membuat cerpen itu? Lantas siapakah yang bisa membuat cerpen?
Jawabannya adalah semua orang bisa membuat cerpen. Tentu saja dengan syarat seperti yang sudah saya sebutkan di atas. 

Contoh cerpen buatan saya yang dimuat koran Kompas Minggu, 27/8/06


Jam Karet
Oleh Chris Oetoyo

Setiap Minggu pagi Tito mempunyai jadwal kegiatan baru, berenang. Ya,sejak seminggu yang lalu Tito ikut dalam sebuah klub berenang. Tito ingin sekali pandai berenang seperti Bagas, teman sebangkunya di kelas Lima. Bagas jago berenang bahkan pernah menjuarai lomba renang anak-anak tingkal kecamatan.

Wah, pasti bangga, menjadi juara lomba renang, pikir Tito membayangkan.

"Belum berangkat, Tito?" tanya mas Andi, kakak Tito mengingatkan.

"Sebentar lagi," sahut Tito yang masih asyik menonton film kesayangannya di televisi.

"Nanti terlambat, lho," kata mas Andi kembai mengingatkan Tito karena lima menit lagi les renangnya dimulai.

"Akh, paling juga belum ada yang datang." ujar Tito.

Tepat jam setengah delapan, barulah Tito berangkat. Ia mengambil sepeda dan mengayuhnya menuju kolam renang yang jaraknya tidak jauh dari rumah.

"Kalau mau jago berenang, jangan suka pakai jam karet!" kata mas Andi ketika Tito berangkat, akan tetapi Tito tidak menghiraukan ucapan mas Andi.

Siapa juga yang pakai jam karet?, pikir Tito sambil lalu.

Sampai di kolam renang, pak Marno, guru les renang sedang memberi aba-aba kepada murid les yang lain. Tito langsung ke kamar ganti dan mengenakan celana renang. Tito langsung bergabung dengan teman-teman yang lain.

"Priiit...." Pak Marno meniup peluit panjang dan anak-anak segera melompat ke dalam kolam dan menggerakkan tangannya, memainkan gaya kupu-kupu.

"Kenap terlambat, Tito? Latihan sudah dua puluh menit yang lalu dan kamu baru datang." tanya pak Marno begitu melihat Tito datang.

Tito selalu datang terlambat ke tempat les berenang.

"Iya pak, kesiangan," jawab Tito beralasan.

"Ya sudah, langsung gabung dan lain kali kamu jangan pakai jam karet lagi."

"Ya pak," sahut Tito kemudian bergabung dengan anak-anak yang lain.

Sambil berenang Tito berpikir, maksudnya apa sih tidak boleh menggunakan jam karet? SIapa yang menggunakan jam karet? Jam yang saya pakai kan bukan jam karet? Jam ini hadiah dari Papa waktu aku ulang tahun ke-10 bulan Maret lalu.
Sepulang dari les berenang, Tito langsung mencari mas Andi, akan tetapi mas Andi sudah tidak ada di rumah. Kata mbok Yem, mas Andi pergi dengan temannya.

"Mbok Yem, memangnya jam tangan yang Tito pakai ini jam karet, ya?" tanya Tito pada mbok Yem sembari menunjukkan jam tangan yang dipakainya.

"Akh, kayaknya bukan deh," jawab Mbok Yem menebak.

Tito masih belum puas dengan jawaban Mbok Yem.Untuk itulah Tito akan menunggu Papa yang membelikan jam tangannya itu. Apakah benar jam yang Tito pakai adalah jam karet.

Malam harinya ketika Papa dan Mama pulang dari undangan , Tito langsung menanyai mereka.
"Pa, memangnya jam tangan yang Tito pakai jam karet?" tanya Tito.

"Bukan," sahut Papa.

"Memangnya kenapa, Tito?" tanya Mama ingin tahu.

"Kok mas Andi bilang, Tito pakai jam karet?" Tito merengut. "Pak Marno tadi di tempat les juga bilang begitu."

Papa dan Mama Tito langsung tersenyum.

"Pasti tadi kamu terlambat datang ke tempat les berenang lagi ya?" tanya Papa.

Tito heran sambil mengangguk.

"Kok Papa tahu?"

Papa tersenyum dan geleng-geleng kepala. Lalu mama menjelaskan pada Tito. 
"Jam karet itu istilah bagi orang yang suka terlambat." kata Mama.

"Oh.." Bibir Tito membulat sambil manggut-manggut.

"Makanya Tito jangan suka terlambat supaya tidak dibilang pakai jam karet," ujar Papa menasehati.

"Iya deh, mulai besok Tito enggak mau terlambat lagi supaya enggak dibilang pakai jam karet," janji Tito.

Papa dan Mama tersenyum mendengar janji Tito.

Tamat---

Selamat berkarya...









No comments:

Post a Comment

Komentar yaaa