Bebas berimajinasi

Bebas berimajinasi

Total Pageviews

Friday, December 13, 2013

Fenomena pertelevisian di Indoensia



Menurut penelusuran sebuah lembaga survei pertelevisian di Indonesia, AC Nielsen, bahwa pada tahun 2012 lalu, 94 persen masyarakat Indonesia mengkonsumsi media melalui Televisi. Artinya bahwa masyarakat Indonesia  masih banyak yang menonton televisi daripada media lain. Lantas kira-kira apa yang diharapkan penonton ketika mereka menonton televisi? 


Masih menurut Nielsen, bahwa ternyata acara-acara seperti pencarian bakat mencuri perhatian pemirsa sebagai genre program paling banyak diminati. Tayangan ini berhasil memperoleh rating (saya menyebutnya sebagai Dewa-nya Stasiun TV) sebesar 2,3. Atau ditonton oleh 1,2 juta penonton di atas 5 tahun di 10 kota besar di Indonesia. Jumlah ini sedikit lebih banyak ketimbang perolehan program hiburan komedi dan sinetron yang ditonton 1 juta orang. Bahkan tayangan hiburan seperti acara pencarian bakat, komedi, musik, atau permainan, memperoleh porsi jam menonton terbesar kedua dari pemirsa. Yakni sekitar 20 persen atau selama 168 jam selama setahun.

Ketika media Televisi sudah menjadi kebutuhan bagi penonton, tentu saja ada beberapa kriteria yang seharusnya diterapkan oleh masing-masing stasiun televisi. Jangan lantaran sebuah program ratingnya sedang tinggi, lantas tidak mengindahkan etika. Memang benar, penonton punya hak untuk mengganti channel sesuai keinginannya, tapi bagaimana jika di semua setasiun televisi (yang selalu latah) menayangkan program dengan genre yang sama pada jam yang sama? Channel tv luar negeri biasanya menjadi alternatif tontonan. Tapi apakah semua penonton memiliki tv berlangganan?

Penayangan program-program unggulan pada jam-jam prime time (Sebutan stasiun tv untuk jam-jam tertentu), seharusnya perlu dikaji ulang oleh KPI (masih efesienkah fungisnya?). Karena di beberapa tayangan televisi pada jam yang seharusnya untuk tayangan dewasa, masih banyak yang disiarkan pada jam di mana penontonnya masih banyak anak-anak.

Tayangan-tayangan yang menurut saya kurang mendidik pada jam-jam tertentu, terus membanjiri di hampir semua stasiun televisi di Indonesia. Sudah menjadi rahasia umum bahwa  hampir semua stasiun televisi di Indonesia ini sifatnya latah. Begitu di salah satu stasiun tv ada program yang sedang bagus, lantas semua membuat program yang sama.

Lantas di manakah fungsi KPI sebagai sebuah lembaga Komisi Penyiaran Indonesia? Tak ada sanksi apapun. Acara terus berlangsung. Bahkan belakangan sedang membanjir acara-acara live yang sebenarnya bukan tontonan anak-anak, karena di dalamnya banyak adegan-adegan (maaf) vulgar dan tidak pantas ditonton oleh anak-anak. Tapi anehnya acara seperti ini menjadi tontonan yang paling banyak diminati penonton, sehingga pihak stasiun televisi pun merasa diuntungkan dengan banyaknya iklan yang masuk.

Dengan fenomena pertelevisian yang ada di Indonesia, tentu saja kita tidak bisa berharap banyak kepada pihak stasiun televisi, untuk menata ulang program-programnya dengan melihat segmen penonton pada jam-jam tertentu. Akhirnya sebagai penonton, kitalah yang harus pandai-pandai memilah, tontonan manakah yang baik untuk kita dan keluarga. 
@kalongking


No comments:

Post a Comment

Komentar yaaa