Bebas berimajinasi

Bebas berimajinasi

Total Pageviews

Sunday, May 06, 2012

Cerita Fabel


ilustrasi blogdetik


Sayap yang terkoyak


            Pagi sudah turun menyapa bumi beberapa menit yang lalu. Matahari masih hangat dan terus melengkungkan senyum terindahnya dibarengi desau angin bulan Januari yang basah. Rumput-tumput liar dan panjang meliuk-liuk, menari-nari menggapai langit cerah diantara rerimbunan bunga Gladiol merah merekah taman kota.
            “Keisyaaaa! Ayo sambut hari yang cerah ini! Sayang jika hari yang cerah seperti ini hanya kau sambut dengan wajahmu yang tak bersahabat itu! Senyumlah, senyum! Ayo!”
            Dua kupu-kupu bersayap lebar dan indah sedang bercengkerama. Yang satu berwarna cokelat dan bermotif abstrak. Dia biasa dipanggil sebagai Aliya. Dia memiliki mata yang bulat dan indah. Sungutnya panjang melengkung dan bergoyang ke sana ke mari jika sedang terbang. Dan satunya lagi Keisya, kupu-kupu cantik bersayap indah yang sekarang sedang dirundung gelisah.
            “Sayapku terkoyak,” kata Keisya. “Dan aku tidak mungkin terbang dengan keadaan seperti ini. Aku malu. Apakah kau bisa menolongku memperbaiki sayap patah ini?” tanya Keisya si kupu-kupu bersayap paling indah. Dulu. Di kerajaan kupu-kupu Keisyalah pemilik sayap terindah. Tapi sekarang tidak lagi. Lihatlah, sayapnya yang indah itu terkoyak. Semua kupu-kupu memuji sayapnya. Dan sekarang? Tak akan ada lagi kupu-kupu yang memuji sayap indahnya. Tidak ada.
            “Bagaimana kalau kita cari sayap kupu-kupu yang lain untuk menggantikan sayapmu yang koyak?” usul Aliya. Ia sudah pernah mengalami kecelakaan seperti itu dan sulit rasanya untuk bisa kembali normal pada sayap yang koyak. Jika pun bisa, akan memakan waktu yang sangat lama sekali.
            “Tidak!” Keisya menggeleng. Menampik usul Aliya yang begitu semangatnya. “Aku tidak akan mengganti sayapku ini. Ini sayap terindahku.” katanya dengan nada sedih sembari melihat sayapnya yang lunglai tanpa bisa ia gerakkan karena salah satu uratnya terputus akibat tersangkut duri bunga mawar di taman itu sesaat yang lalu ketika ia sedang mencoba menari. Pagi ini seharusnya ia riang karena Rangga akan mengajaknya nge-date. Tapi duri Mawar telah meluluh lantakkan semua harapan itu. Ia membuat sayapnya koyak.
            “Terserah kamu,” ujar Aliya kesal sambil mencibirkan bibir. Keisya si kepala batu. Susah menerima pendapat kupu-kupu lain. 
Aliya kemudian terbang mengitari bunga Matahari yang telah mekar, bulat dan besar. Aliya paling suka bunga Matahari diantara bunga-bunga yang lain. Karena keinginannya untuk menyentuh Matahari tidaklah mungkin, maka dengan bunga Matahari itu ia anggap sama saja dengan menyentuh Matahari yang sesungguhnya. Ia suka Matahari karena selalu dibutuhkan banyak makhluk hidup sama seperti keinginan Aliya yang ingin dibutuhkan oleh banyak kupu-kupu dan bunga-bunga.
“Apakah kau tahu bahwa Rangga akan mengajakku jalan sore ini?”
“Ya, aku tahu. Kau telah mengatakannya padaku.”
“Tapi bagaimana mungkin dengan keadaan sayapku yang seperti ini? Pasti ia akan kecewa melihat sayapku yang tak cantik lagi,” keluh Keisya sendu. Matanya berlinangan, basah oleh air mata yang berderai-derai lalu menetes di dekat sayapnya yang lunglai dan mengilat terkena percikan sinar Matahari pagi.
“Sebenarnya aku ingin sekali menolongmu, Keisya. Tapi kamu tidak pernah mau mendengar pendapatku. Aku berani bicara seperti ini karena aku punya pengalaman dengan sayapku. Kau tahu kan, sayapku juga pernah koyak seperti milikmu sekarang dan butuh waktu yang cukup lama untuk sayapmu kembali menyatu. Sementara menunggu sayap yang koyak kembali menyatu, aku menggunakan sayap palsu agar tetap terlihat cantik.” kata Aliya panjang lebar. Sungut panjangnya bergerak-gerak ke sana ke mari.
“Jadi?” tanya Keisya mulai luluh. Ia sudah tidak punya cara lagi untuk bagaimana dalam waktu yang sangat singkat bisa memperbaiki sayap indahnya yang koyak. Ya, itu tidak mungkin. Butuh proses. Butuh waktu yang lama, sama seperti ketika ia mengobati luka hatinya karena luka yang digoreskan oleh kupu-kupu jantan yang kini entah pergi ke dunia mana meninggalkan cinta sejati Keisya. Pergi dengan sihir cinta kupu-kupu cantik berwarna ungu. Keisya tidak mau lagi mengingat itu karena akan membuatnya kembali sakit. Kini luka itu telah berhasil ia kubur bersama masa lalunya yang tak indah.
“Ikut aku,”
“Ke mana?” tanya Keisya.
“Kau nggak mau sayapmu terlihat jelek di mata Rangga kan? Iya kan? Sudah, ayo ikut aku,” kata Aliya dan terbang mengepakkan sayapnya sembari mencengkeram tangan Keisya. Keisya tak lagi menolak. Ia membiarkan Aliya menerbangkannya.
Pada suatu tempat yang jauh, Aliya menurunkan Keisya. Tempat itu tak pernah Keisya datangi sebelumnya. Tempat yang asing. Di sana ia banyak melihat kupu-kupu yang tak satupun ia kenali.
“Ini tempat apa?” tanya Keisya.
“Ini tempat di mana kau bisa menjadi kupu-kupu bersayap indah,” sahut Aliya. Di tempat itulah Aliya mengganti sayapnya dengan sayap palsu. Pada seekor kupu-kupu ahli pembuat sayap.
“Mereka siapa?”
“Mereka sama sepertimu, ingin mengganti sayap-sayap mereka dengan sayap baru palsu yang indah untuk menarik kupu-kupu jantan,” urai Aliya menjelaskan kebingungan Keisya melihat banyak kupu-kupu yang bergerombol dengan berbagai ekspresi di wajah-wajah mereka. “Bedanya jika kita datang ke sini karena sayapmu koyak, tapi tidak dengan mereka,”
“Maksudmu?”
“Mereka datang ke tempat ini memang sengaja untuk mengganti sayap-sayap jelek mereka dengan sayap indah yang mereka inginkan.”
“Mereka tidak bersyukur,”
“Semua kupu-kupu ingin terlihat cantik dan memiliki sayap indah, walau dengan cara apapun. Termasuk mengganti sayap mereka dengan sayap palsu.”
“Tapi tidak dengan mengganti sayap mereka yang sudah diciptakan Tuhan bukan?” tanya Keisya.
“Kau terlalu banyak tanya.” kata Aliya mulai kesal. “Sekarang kau mau mengganti sayapmu menjadi sayap yang lebih indah dari sayapmu yang koyak itu kan?” tanya Aliya.
Keisya tidak menjawab. Ia bingung dan terdiam memikirkan banyak hal. Apakah nantinya Rangga akan terpesona jika ia mengganti sayap aslinya? Bukankah Rangga menyukainya lantaran sayap asli Keisya?
***
Senja turun perlahan ditemani angin yang berhembus hangat menarik-narik pucuk-pucuk pohon dan bunga di taman kota. Rintik hujan baru saja selesai dan menyisakan sebuah pelangi yang melengkung indah di langit yang membiru.
Rangga datang mencari Keisya sesuai janjinya untuk mengajak Keisya pergi sore itu menikmati senja yang indah. Akan tetapi ia tidak melihat ada Keisya di sana. Di dekat bunga Gladiol tempat mereka janji untuk bertemu.
“Keisya, di manakah kamu?” tanya Rangga.
“Aku…, aku di sini,” sahut Keisya dengan lirih. Jantungnya berdebar sedari tadi menunggu Rangga, si kupu-kupu jantan yang penuh pesona itu. Tapi ia takut. Takut Rangga akan pergi lagi ketika melihat sayapnya yang tak lagi indah karena terkoyak. Ia tidak ingin kehilangan untuk yang kedua kalinya. Tapi sayap indah yang ia jadikan sebagai pemikat itu telah koyak. Keisya takut Rangga akan pergi. Takut sekali.
“Aha! Kenapa kau bersembunyi?” Rangga menyibakkan batang bunga Gladiol yang melengkung menutupi wajah Keisya.
“Aku…,” Keisya tak sanggup untuk memandang wajah Rangga. Tatapan mata Rangga yang menghujam setiapkali melempar pandang ke arahnya tak ia perdulikan. Jantungnya tetap berdetak tak stabil. Ia ragu dan takut.
“Kau tampak cantik sekali sore ini,” puji Ranga.
“Be-benarkah?” tanya Keisya terbata. “Tapi…,”
“Kenapa?” tanya Rangga sembari mengulurkan tangan pada Keisya tapi tak dibalas oleh Keisya yang nampak ragu.
“Kau pasti akan kecewa ketika melihat apa yang terjadi pada sayapku,” sedih Keisya.
“Kenapa dengan sayapmu?”
Keisya dengan setengah ragu membuka sayapnya. Memperlihatkan pada Rangga bahwa sayapnya tak seindah seperti ketika pertama kali mereka bertemu. Kini sayapnya koyak dan ia masih tidak ingin memperbaikinya dengan memakai sayap palsu seperti saran Aliya. Ia mencintai sayapnya sendiri dan tak akan mengganti sayapnya dengan sayap palsu.
Rangga tersenyum ketika melihat sayap Keisya yang koyak. Sementara jantung Keisya tambah berdebar menanti reaksi Rangga. Dan ia hanya menunduk pasrah.
“Kau masih tetap cantik walau sayapmu koyak. Dan…,”
Keisya menatap manik mata Rangga mencari jawaban atas ucapan Rangga yang belum selesai terucap.
“Aku kagum padamu, karena kau tak mengganti sayap koyakmu itu dengan sayap palsu seperti kebanyakan kupu-kupu lain agar tampil cantik dan menarik. Ternyata kau lebih mencintai sayapmu sendiri.” kata Rangga menyanjung membuat wajah Keisya seketika merona.
Keisya tidak bisa berkata-kata. Sejuta perasaan membumbung tinggi menggapai langit ke tujuh. Pujian Rangga telah menumpas kegelisahannya. Akh, andai saja aku mengganti sayapku dengan sayap palsu yang mungkin lebih indah dari sayap asliku, mungkin Rangga tidak akan menjatuhkan cintanya padaku, batin Keisya.
Rangga kemudian menggandeng tangan Keisya dengan lembut hingga wajah Keisya merona kemudian mereka terbang untuk menikmati senja yang indah dengan sejuta cinta di bawah lengkungan pelangi.

**********

No comments:

Post a Comment

Komentar yaaa